Memaafkan


Suatu hari seorang pria yang telah banyak membuat kesalahan datang ke hadapan seorang bijak dengan harapan ia bisa di beri petunjuk bagaimana memperbaiki semua kesalahan-kesalahannya itu dan tidak mengulanginya lagi.

Guru saya mempunyai banyak dosa. Saya sering memfitnah, membohongi dan menggosipkan orang lain dengan banyak hal-hal yang buruk. Saya sekarang menyesal dan ingin memohon maaf lahir dan batin. Bagaimana caranya agar Tuhan dan mereka yang telah saya sakiti itu mengampuni semua kesalahan saya.

Mendengar hal itu sang bijak berkata.

Baiklah kalau begitu tolong kau ambil bantal yang ada di tempat tidurku kemudian bawalah ke alun-alun kota. Dan sesampai di sana bukalah bantal itu sampai bulu-bulu ayam dan kapas yang ada di dalamnya keluar tertiup angin. Itulah bentuk hukuman atas kata-kata jahat yang telah keluar dari mulutmu.�

Meski kebingungan toh akhirnya ia menjalani hukuman yang diperintahkan kepadanya. Di alun-alun ia membuka bantal dan dalam sekejap bulu ayam dan kapas beterbangan tertiup angin. Setelah selesai melakukan hukuman itu ia kembali menghadap sang bijak dan bertanya.

Saya telah melakukan apa yang guru perintahkan, apakah itu berarti sekarang saya sudah diampuni guru?

Bapak tua yang bijak menggelengkan kepala dan berkata.

"Kamu belum dapat pengampunan, kamu baru menjalankan separuh hukumanmu. Kini kembalilah ke alun-alun dan pungutlah kembali bulu-bulu ayam yang tadi beterbangan tertiup angin."
----ooo----
Tidak peduli berapa kali kita memohon maaf. Kata-kata yang keluar dari mulut kita akan menggema selamanya. Memang sebuah permintaan maaf bisa mengobati banyak hati. Namun agaknya kita juga harus mengingat bahwa semuanya itu tidak akan ada artinya saat kita mengulanginya kembali.

- Resonansi Jiwa -
by. Classy FM
Tayang di Youtube setiap hari jam 05.00 WIB, subscribe Channel Kara Nada agar tidak ketinggalan.
close