Novel - Hallo December bagian 2


Andaikan
AKU SEORANG TERPELAJAR
Bagian- 2
S
eiring berjalannya waktu, sampailah pada tempat tujuan kami yaitu di Spanyol. Kota yang dengan jumlah penduduknya terbilang cukup tinggi ini merupakan kota perdagangan. Dimana banyak sekali beraneka macam barang dagangan dan kebutuhan-kebutuhan pokok yang di perjual-belikan secara bebas, baik barang ekspor maupun barang impor.
Ketika sampai di sebuah pasar, kami turun dari punuk unta dan menuntunnya melewati pasar yang penuh dengan desak-desakan antara penjual dan pembeli yang saling berinteraksi tawar menawar untuk mendapatkan harga yang sesuai. Tak luput dari pandanganku dari semua pedagang-pedagang yang sedang memperjual-belikan barang dagangannya kepada pembeli. Satu di antara pedagang tersebut, ada seorang gadis berjilbab. Di lihat dari paras wajahnya , gadis itu sepertinya keturunan arab-spanyol. Namun perjalanan kami tak berhenti di pasar itu ,  kami hanya sekedar membeli kebutuhan makanan saja. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju tempat istirahat  terdekat seperti masjid.
Di tengah perjalanan, aku masih memikirkan paras  gadis yang ku temui tadi. Dengan berperawakan tubuhnya yang tinggi di balut dengan pakaian syari’i menambahkan kekaguman ku pada gadis tersebut. Mungkin ia seumuran dengan ku. Tapi itu hanya angan-angan belaka untuk menemui dan menanyakan namanya. Karena tidak mungkin ia mau berkenalan dengan orang seperti ku. Hitam, kurus, keriting, dan pendek.Fisik ku tak sebanding dengan fisik tubuhnya.
D
i terik yang cukup panas di sebuah pasar, Seorang gadis berbalut pakaian syar’i sedang menjual barang dagangannya kepada pembeli. Tapi tidak ada satupun pembeli yang membeli dagangannya. Sedikit rasa kecewa dan kesal namun gadis itu tetap bersabar. 
Hari semakin sore, tapi tak satupun juga ada pembeli yang membeli barang daganganya. Harus makan apakah adik-adiknya nanti. Ayah dan ibunya sudah dua bulan lalu meninggal dunia. Dan sekarang ia mengurus kedua adiknya yang masih balita. Dengan cara menjual barang dagangan berupa kain sorban, sajadah, peci , baju gamis, dan perlengkapan islami lainnya gadis itu dapat menghidupi adik-adiknya. Gadis itu reseller nya dari arab saudi yang menjual barang dagangan dari Arab Saudi untuk di jual kembali di Spanyol dengan harga yang cukup tinggi. Ia mempunyai pandangan bahwa banyak umat islam yang ada di Spanyol ini, mungkin 25% dari seluruh penduduk spanyol adalah umat islam. Dimana ia akan meraup keuntungan yang lumayan besar dari hasil penjualan ini. Tapi sayang, hari ini tidak ada satupun orang yang membeli dagangannya.  Di liputi rasa kesal , sedih dan kecewa namun ia tetap sabar hingga menjelang petang.
D
i gubuk tua yang sangat kecil, Dua orang bersaudara menunggu kedatangan kakaknya yang tak kunjung kembali pulang. “Bang, Kakak mana? Kok gak pulang-pulang ya?” tanya anak yang paling kecil. Sang Abang menjawab “ Bentar lagi kakak pulang. Sabar ya ,dik”.
Dua orang bersaudara itu sangat kelaparan karena dari pagi belum makan. Mereka sedang menunggu kepulangan kakaknya dari pasar berharap membawa makanan yang banyak dari pasar. Sang adik paling kecil menangis terisak-isak karena perutnya keroncongan. Ibu dan ayah mereka sudah lama meninggal. Mereka hanya hidup bertiga dengan kakak mereka yang paling besar sebagai tulang punggung mereka. Mereka tidak bersekolah karena kebutuhan ekonomi mereka hanya cukup untuk biaya makanan sehari-hari saja.
Tiba-tiba , pintu depan rumah mereka terbuka dan muncul suara seorang gadis perempuan remaja “Kakak pulang ! “ teriakan itu membuat dua orang bersaudara penghuni rumah itu menjadi riang ceria lagi. Mereka tak sabar. Makanan apa yang di bawa oleh kakaknya dari pasar.
“Kok kakak lama kali pulangnya? Gak biasanya jam segini baru pulang ? “ tanya adik yang paling besar khawatir terhadap kakaknya.
“Tadi belum ada satupun pembeli yang membeli barang dagangan kakak, dik”. Jawab kakaknya sambil berjalan menuju dapur untuk mengambil perlengkapan makan.
Serasa puas dengan jawaban yang di luncurkan kakaknya , dia berhenti bertanya dan duduk bersila mengitari hidangan makanan yang tidak terlalu banyak namun cukup untuk sampai besok. Mereka makan dengan sangat lahap tetapi sang kakak hanya melihat adik-adiknya makan dengan lahap sekali. Ada hal yang membuatnya senang dan ada juga hal yang membuatnya ikut bersedih. Dia senang  bisa melihat adik-adiknya makan dengan kenyang dan ia juga sedih melihat kondisi kehidupan adik-adiknya yang ikut menderita dengan makan seadanya. 
“Kakak kok gak makan ? entar makanannya habis di makan banteng loh? “ Adik paling kecil menawarkan sepotong roti kepada kakaknya.
“Kakak udah makan kok dik. Tadi di pasar kakak sudah habis makan roti se-pabrik-pabriknya”. Candaan kakak membuat kedua adiknya tertawa terbahak-bahak menahan lelucon sang kakak.
Namun sang adik tak terpengaruh dengan apa yang di katakan kakaknya.
“Sini kak aku sulangi. Ngaakkk ! “ Adik menyulangi kakaknya dengan penuh kasih sayang.
Terlihat mereka bertiga hidup dengan rukun dan tentram serta penuh kasih sayang. Walaupun kehidupan mereka bertiga di liputi krisis ekonomi yang sangat rendah sekali namun mereka tetap selalu bahagia.Hidup sederhana itu lebih baik dari pada hidup sangat kaya tetapi penuh masalah.
Akhirnya keempat orang musafir dan sang anak itu sampai juga pada sebuah pondokan kecil yang cukup untuk beristirahat 5 orang.  Mereka berempat lupa untuk membelikan pakaian seperti orang musafir kepada anak yang di bawa oleh mereka. Dia hanya memakai pakaian biasa yang sudah terlihat usang dan tak layak pakai lagi. Akhirnya salah satu bendahara mereka kembali masuk ke pasar untuk mencarikan pakaian muslim untuk anak itu lengkap dengan tutupan kepala  dan sorban putih.
Hari menjelang malam , akhirnya orang yang di tunggu pulang juga dengan membawa pakaian yang di pesankan. “Asik. Aku dapat baju baru. Aku dapat baju baru. Hore ! “ Anak itu sangat riang sekali sehingga membuat empat orang musafir lainnya menjadi tersenyum geli melihat tingkah anak itu.
“Sekarang kau adalah bagian dari kelompok kami. Selamat kepadamu. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk kehidupan mu di masa depan”. Sang ketua kelompok menyerahkan seluruh pakaian dan perlengkapan musafir kepada anak itu.
Anak itu memakainya. Satu demi satu pakaian sudah menempel di tubuhnya dan resmi lah anak itu menjadi kaum musafir.
“ Dik , kau cocok dengan pakaian itu”. Kata Paman Handez Ranjiv.
“Apanya yang cocok?” tanyaku
“Iya. Kan cocok itu denganmu. Kau kan hitam”. Jawab Paman Handez Ranjiv dengan menahan tawa.
Rasa lucu di campur sedikit marah namun hanya ku abaikan saja. Aku malah ikut tertawa mendengarnya seakan-akan tidak ada rasa marah apalagi dendam dengannya.
“Ah, Paman bisa aja” sebuah keplokan ke pipi Paman Handez Ranjiv yang ku lontarkan membuat nya kaget tetapi ia tetap saja tertawa.  Mereka saling tertawa geli karena leluconnya.
Aku mulai melanjutkan pembicaraan ku “Paman beli semua pakaian ini di mana ?”
Paman Handez Ranjiv menjawab setelah ia berhenti tertawa geli tadi “ Hemm, kamu mau tahu aja. Apalagi nanti kalau aku kasih tahu bahwa pedagang pakaian ini sangat cantik dan usianya mungkin sebaya dengan mu”.
Aku mulai berpikir “ Apa mungkin gadis yang aku lihat tadi ? “.
Ada perasaan senang juga gembira yang menyelimuti hatiku. Seakan kata-kata hatiku dapat berbicara langsung padanya saat aku mengenakan pakaian yang di jual nya itu. “ Apa mungkin aku suka padanya ? , tidak mungkin. Aku mungkin tidak di inginkannya”.
Hari semakin larut dalam kegelapan malam. Bintang-bintang dan bulan muncul dan senyum kepada seluruh semesta. Alangkah indahnya langit malam yang bertaburan berjuta-juta bintang yang berkelap-kelip. Tidak ada yang bisa menciptkan keindahan ini selain Allah SWT. Jauh di lubuk hatiku , aku merasakan ada hal lain yang membuatku khawatir pada gadis yang kulihat tadi siang. Namun sejalan dengan khayalanku, aku mulai terlelap dalam tidur dan terbang bersama mimpi-mimpiku. 
Saat menjelang tidur, sang kakak mendongengkan sebuah kisah petualangan kepada adik-adiknya. Dia sangat semangat membaca dan menuturkan alur cerita dalam buku agar adik-adiknya memahami ceritanya. Tapi seperti biasanya, saat di ending cerita selalu saja adik-adiknya sudah tertidur duluan sebelum tahu akhir cerita dalam buku tersebut.
Namun ini tidak biasanya, kedua adiknya masih saja belum tidur hingga cerita selesai. Hal ini membuat kakaknya bertanya-tanya “ Kenapa belum tidur juga , dik ? “
Adik yang paling kecil menjawab “ Aku kangen bapak dan mama , kak”.
DI susul dengan pertanyaan adik yang paling besar “ Sebenarnya bapak dan mama kemana kak? Kok gak pulang-pulang ? kami rindu ingin bertemunya kak? “
Kedua adiknya tampak sangat bersedih sekali. Wajah mereka terlihat sangat rindu kepada sosok kedua orang tuanya. Memang saat setelah lahir adiknya yang paling kecil , di tempatnya terjadi pemberontakan antara kaum muslim dan nasrani hingga menyebabkan kedua orang tuanya meninggal dunia.
Sang kakak bingung harus menjawab apa kepada kedua adiknya bahwa sebenarnya kedua orang tuanya telah lama meninggal dunia dan tak akan pernah kembali lagi ke dunia. Walaupun begitu, dia harus menjawab pertanyaan adik-adiknya agar membuat mereka lebih tenang dan tidak memikirkannya lagi.
“ Bapak dan mama sedang pergi jauh sekali , dik. Mereka pergi ke langit dan menjadi bintang-bintang di sana”. Jawab sang kakak . Perlahan air matanya mengalir di pipinya saat ia menuturkan kepada adik-adiknya.
“Akankah kami bisa bertemu dengan mereka, kak? Hanya untuk sebentar saja”. Tanya adik yang paling besar.
“ Tentu. Jika kalian menutupkan mata kalian dan mulai tidur!”. Sang kakak mengelus kening kedua adiknya secara bersamaan.
Penuh kasih sayang si kakak merawat adik-adiknya. Tangannya juga menghapus air matanya yang sempat mengalir di pipi manisnya. Dan pikirannya mulai menerawang masa lalu saat dia masih kecil. Saat itu dia sangat di sayangi oleh kedua orang tuanya. Dia mendapatkan segala kebahagiaan saat itu yang tidak di miliki kedua adiknya sekarang. Maka dari itu, dia menjadikan dirinya sebagai sosok seorang Bapak yang pekerja keras dan Ibu yang menyayangi anak-anaknya. Beban itulah yang harus di laksanakan olehnya untuk kedua adiknya.
Di sepertiga malam, tiba-tiba “ Kakak Randini ! Aku melihat bapak dan mama. Mereka sedang tersenyum padaku dan mereka menggenggam tanganku”. Teriak si adik paling kecil. Teriakannya hanya tehenti sampai di situ saja,
Si Kakak pun terbangun dari tidurnya dan melihat dari mana sumber teriakan itu. Adiknya yang paling kecil ternyata sedang mengigau. Matanya masih terpejam sedangkan mulutnya bersuara gak jelas. Kemudian si kakak mencoba menenangkannya dan kembali tidur. Lain hal dengan adik yang paling besar, dia tidak terpengaruh sedikitpun suara teriakan tadi. Dia masih nyenyak dalam tidurnya.
Pagi-pagi sekali Randini sudah bangun dari tidurnya. Sungguh ia merasakan dirinya kurang enak badan sebab kurang tidur. “Kak , kakak kenapa? Kakak tidak sehat ya? Lebih baik kakak tidak usah berdagang dulu. Besok saja ya kak! “ perintah si adik paling besar saat dia mulai terbangun dan menatap wajah kakaknya yang pucat.
“Hem.., aku tidak boleh sakit. Aku harus bekerja. Mau dari mana lagi uang yang ku dapat nanti jika aku tidak bekerja untuk memberi makan kedua adikku”. Pikir Randini bingung harus bagaimana.
Akhirnya dengan pendirian teguh, Dia mulai menyusun barang-barang dagangan yang akan di jajakannya nanti. “Tidak apa-apa kok dik. Kakak masih sehat. Kamu di rumah baik-baik ya. Kakak berangkat dulu. Sarapan pagi ini sudah kakak siapkan di atas meja. Jaga adikmu ya. Kakak berangkat dulu” Begitu pesan sang Kakak kepada adiknya yang sulung.
Walau agak pusing , tapi langkah kakinya begitu lincah memikul dan menjinjing barang dagangan menuju pasar.
Pagi ini, aku tak tahu apa yang aku lakukan bersama paman Handez Ranjiv. Mungkin dia akan mengajakku ke kota untuk melihat beberapa pertunjukan gratis di sana. Sebelum menuju ke kota kami mampir sebentar ke pasar untuk membeli  cemilan makanan pengganjal perut.
Langkah kami sedikit pelan saat hampir tiba di depan pasar di karenakankan seseorang memikul barang yang banyak di punggungnya sehingga menyebabkan dia sedikit lambat untuk berjalan di depan kami. Langkanya pun mulai terseok-seok di tanah seakan mulai tak kuat untuk memikul semua barang itu. Aku melihat kakinya mulai gemetar. Ku tatap mata paman Handez tapi dia hanya cuek saja dengan kejadian itu. Aku merasakan ada hal yang aneh pada dirinya dan tiba-tiba......
Gubrakkkk...
Clapp.. Ku peluk tubuh mungilnya sebelum dia jatuh ke tanah. Aku kaget dengan kejadian itu, seakan aku tidak percaya bahwa orang yang berjalan di depanku adalah wanita. Dan dia sekarang jatuh pingsan di pelukanku. Gerakan refleks tadi tanpa ku sadari dan tanpa ku duga-duga. Semua orang yang melihat kejadian itu tiba-tiba diam. Suasana pasar yang ramai tiba-tiba sunyi sepi. Tatapan orang-orang mulai menuju pada kami. Sejurus kemudian seseorang berteriak “ bagus aktingnya !”. Yang lain pun ikut bertepuk tangan dan bersorak-sorak. Aku pikir mereka sedikit aneh. Ku lihat paman Handez tidak menggubris kelakuan orang-orang tadi. Ia menuntun kami pada tempat yang jauh dari keramaian.
Tibalah kami di sebuah pondok kecil kosong berbentuk kios pasar. Di sana paman Handez menyembuhkan wanita itu dengan segala cara obat yang di bawanya tetapi tidak mempan kepada wanita itu. Dia juga belum bangun dari pingsannya. “Ahaa.. Aku ada ide paman!” tangan ku mengambil sesuatu dari dalam tas punggung yang ku bawa tadi. Sebuah kaus kaki yang mungkin sudah 2 bulan lamanya gak di cuci sejak kepergiaan ku dari afrika. “Ini ide terburuk yang pernah ku lihat” kata paman Handez saat aku mengeluarkan kaus kaki bau itu. Ya, ternyata ide ini berhasil. Wanita itu salngsung terbangun dan bingung kenapa di sekelilingnya ada dua pria yang aneh berpakaian serba putih. Yang satu berbadan tinggi putih bersih berseri dan yang satu lagi hitam pekat ,berambut keriting, dan bertumbuh pendek.
“Siapa kalian ? “ tanya wanita itu ketakutan melihat ke arahku.
Pikirku “apa yang di lihat wanita ini ya? Kenapa dia ketakutan melihat kearahku”.
“Tenang. Kami di sini yang telah menyelamatkanmu karena tadi kamu pingsan di pasar”. Jawab Paman Handez menenangkan pikiran wanita itu.
Paman Handez menceritakan kembali  kronologis kejadian dari awal.
Setelah cerita selesai, aku bertanya kepada wanita itu “Nama kamu siapa ? “
“Emmm..emm.. Nama ku Ra....Ra....Randini” Jawabannya agak gugup dan takut.
“Kenalin Namaku........”
Belum sempat aku memberi tahu namaku dia sudah lari meninggalkan kami.
Paman Handez tertawa geli melihat aku yang dengan bangganya akan memberi tahu namaku pada wanita itu namun tidak di gubris dan wanita itu langsung pergi begitu saja tanpa ada rasa terimakasih sedikitpun terhadapku.
Sudah menjelang malam kakak dari kedua adik itu tak kunjung pulang. Kepulangan sang kakak sangat di nanti-nanti oleh kedua adiknya.
“Bang?” Tanya adiknya yang paling kecil.
“Ya dik”  balas abangnya.
“Kakak kemana ya ? kok gak pulang-pulang ya? Perut aku sudah lapar”. Tanya adiknya merengek.
“Sabar ya dik. Gak lama lagi pulang kok”. Jawab abangnya sembari mengaduk teh hangat untuk adiknya.
Di tengah perbincangan itu, Remaja tanggung masuk ke dalam Rumah dengan menyapa “ Kakak Pulang” .
Semula wajah dua anak laki-laki yang sangat gelisah tadi, kini menjadi ceria dan gembira mendengar sambutan suara itu.
“Hehehe... kakak Randini pulang” Senyum kecil adik sulungnya mengisyaratkan suatu hal. Kakaknya sudah mengerti apa yang di pikirkan adiknya itu. Tapi wajah perempuan itu terlihat gusar dan penuh kecewa sekali.
“Maafkan kakak dik. Kakak pulang gak bawa makanan”.
“kenapa kak?” Adik sulungnya sedikit kecewa dan penuh tanda tanya.
“Kakak jatuh sakit saat di Pasar dan barang dagangan kakak belum ada yang terjual satupun”. Menetes air mata menyesali perbuatannya itu.
“ Sudah kak. Jangan menangis. Kita masih bisa makan Roti yang ku temukan di tong sampah dekat pasar tadi”. Adik sulungnya mengusap air mata yang mengucur di pipi perempuan itu.
“Adikmu mana?” Tanya Perempuan itu kepada adik sulungnya.
“Sedang berada di kamar minum teh”  Tunjuk adik sulungnya.
“Cepat panggil biar kita bisa makan bersama” Perintah perempuan itu.
“Siap bos” Tangan di hormatkan kepada perempuan yang berada di hadapannya.
Dalam keluarga yang harmonis itu, Tanpa ibu, Tanpa ayah, dan tanpa sanak saudara siapapun. Namun wajah ceria  dan gembira masih terlihat di antara kakak dua beradik itu.
Saat mereka makan bersama, Tiba-tiba dari depan rumah ada seseorang yang datang.
“Assalamualaikum. Permisi”.
Perempuan yang sedang makan bersama adik-adiknya tadi kaget dan begegas bangkit dari duduknya dan menyahut sambutan suara tadi.
“Wa’alaikumussalam”. Dia membukakan pintu untuk si tamu.
Namun alangkah terkejutnya perempuan itu melihat tamunya yang datang itu.
“Kalian ?” kaget tak menentu bahwa tamunya itu adalah orang menyelamatkannya tadi di pasar.
“Iya”. Aku tersenyum lebar menampakkan gigiku yang putih berseri dengan proporsi warna kulit pipiku yang elegan menimbulkan ciri khas Jalanan Aspal pada zebra cross.
“Emmm...mmm... Maaf aku sedang sibuk dan tidak ingin punya tamu ini malam. Selamat tinggal”. Perempuan itu menutup pintunya tanpa memperdulikan tamunya  atau mempersilahkannya duduk terlebih dahulu.
“Tapi kami ingin mengembalikan barang dagangan mu yang terjatuh di pasar tadi serta kami membelikan sedikit makanan untukmu karena kamu kelihatan pucat sekali tadi. Tapi kamu langsung nyelonong pergi tanpa berterimakasih terlebih dahulu kepada kami”. Cetus aku menjelaskan semuanya kepada gadis itu dengan nada yang agak keras.
Perempuan itu hanya mendengarkan dari dalam ruangan bualan lelaki hitam legam bak panci gosong itu.
Panjang lebar penjelasan ku tadi , Perempuan itu hanya menjawab “Taruh aja  semuanya di depan pintu dan cepat kalian pergi”. Nada perempuan itu sedikit keras.
Rasanya begitu kecewa dan sakit hati mendengar perkataan perempuan itu secara langsung. Dan tatapan ku tertunduk ke bawah dan meletakkan semua yang ku jinjing di alas kaki depan pintu.
Mereka pun kembali dengan kekecewaan karena tak di hargai oleh perempuan itu.
Kekecewaannya tak pernah kunjung henti , namun ia tetap mengikhlaskannya. Sampai di situ kah perjuanganya laki-laki hitam legam itu untuk menyatakan perasaannya pada gadis perempuan itu?Tunggu cerita berikutnya , hanya di Cerita “Andaikan AKU SEORANG TERPELAJAR”.
 Bersambung ......

close